Jadwal Sholat Hari Ini

Menerjemahkan

Harap tunggu sebentar...

Nyai ‘Aisyah Lirboyo, Ummu adl-Dluyuuf – Sang Ibu Para Tamu

Kanzanesia.com — Dalam balutan kasih sayang dan kemuliaan akhlak, sosok mulia ini dikenal dengan panggilan penuh cinta: Mak Syah. Nama lengkap beliau, Nyai ‘Aisyah, puteri al-‘Arif Billah Mbah Yai Abdul Karim Lirboyo, dan ibunda dari al-Mukarram KH. Ma’shum Jauhari, Sang Maha Guru Pagar Nusa. Seorang wanita agung yang hidupnya adalah cermin dari sabda Rasulullah: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya.”

Tak heran, ketika ruh suci beliau kembali ke haribaan Ilahi, Romo Kyai Abdul Aziz Paculgowang menyematkan gelar yang begitu luhur: “Ummu adl-Dluyuuf”, Sang Ibu Para Tamu. Gelar ini bukan sekadar ungkapan, tapi saksi dari ribuan peristiwa yang menampakkan keluasan hati dan kemuliaan jiwa beliau dalam menyambut siapa pun yang datang bertamu.

Gus Ma'shum Lirboyo bersama Ibu Nyai Aisyah
Gus Ma’shum Lirboyo bersama Ibu Nyai Aisyah

Tak terhitung berapa bus yang pernah berhenti di kediamannya (kadang lima, kadang sepuluh) namun tak satu pun tamu yang dibiarkan pulang dengan perut kosong. Bahkan para santri yang diam-diam ikut serta dalam rombongan pun turut menikmati berkah jamuan tersebut. Sebagian santri hafal betul tanda-tandanya: jika lauk-pauk dan nasi di warung Mak Syah mendadak habis, pasti sedang ada tamu besar. Khadim pun sigap mengangkut segala sajian untuk menjamu mereka.

Kemuliaan hati Mak Syah bukan hanya pada kemurahan tangan, namun juga dalam memuliakan keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para dzurriyyah Nabi yang menimba ilmu di Lirboyo mendapat perhatian dan kasih sayang istimewa. Mereka dijatah makan secara khusus setiap hari, dengan menu yang terjaga kehormatannya.

Ayik Muhammad al-Hasni Prambon suatu ketika berkisah: “Selama mondok di Lirboyo, setiap hari saya dijamu makan di ndalem Mak Syah. Suatu ketika, ayam ingkung yang disiapkan untuk saya, terlebih dahulu disantap oleh Gus Ma’shum. Mak Syah pun murka dan menegur putranya selama beberapa hari. Beliau dawuh dengan penuh ketegasan: ‘Awakmu ojo wani-wani lancang karo anak putune Kanjeng Nabi, Shum. Awake dewe iki sopo?’.”

Betapa dalam penghormatan beliau kepada nasab mulia Rasulullah. Bukan karena sekadar garis keturunan, tapi karena kecintaan ruhani yang menjulang hingga langit.

Tak hanya dalam hal menjamu, Mak Syah juga dikenal sangat ringan langkahnya. Setiap ada undangan, walimah atau hajat apa pun, beliau senantiasa rawuh, membawa oleh-oleh dalam jumlah banyak, sebagai bentuk doa, cinta, dan penghormatan kepada sesama. Bahkan keluarga yang jauh pun tak luput dari silaturahmi beliau yang istiqamah.

H. Latiful Arif, S.IP, S.Pd
Penulis Eksekutif

H. Latiful Arif, S.IP, S.Pd

Pengasuh Pondok Pesantren Ali Ustman Urek-Urek Gondanglegi Malang Jawa Timur | Pendidikan : Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo Kediri Jawa Timur

Kumpulan Tulisan