Ridlo Ibu Adalah Segalanya: Pelajaran Birrul Walidain dari Keluarga Ulama Besar
Kanzanesia.com — Dalam ajaran Islam, ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua, terutama ibu. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Kisah nyata berikut ini menjadi bukti hidup betapa besar nilainya birrul walidain, bahkan bagi seorang ulama besar yang disegani ribuan santri dan dunia.
Latar Belakang Keluarga
Ny. Arthimah binti Sholeh (dari keluarga Banjarmlati, Kediri) pernah menikah dengan KH. Dahlan Jampes, seorang ulama pendiri Pondok Pesantren Jampes di Kediri, Jawa Timur. Dari pernikahan itu lahirlah dua putra: KH. Muhammad Ihsan Dahlan al-Jampasi (dikenal sebagai Syekh Ihsan Jampes) dan KH. Marzuqi Dahlan.
Setelah bercerai, Ny. Arthimah kembali ke rumah orang tuanya di Banjarmlati dalam keadaan hamil. Anak yang dikandungnya itu kemudian lahir dengan nama Marzuqi. Sejak kecil hingga dewasa, KH. Marzuqi dibesarkan dan diasuh langsung oleh ibunya, sementara kakaknya, KH. Ihsan, diasuh oleh sang ayah di Pesantren Jampes.
KH. Ihsan kelak menjadi ulama besar Nusantara. Beliau mengarang kitab monumental Sirâjut Thâlibîn, syarah atas Minhâjul ‘Âbidîn karya Imam al-Ghazali. Kitab ini hingga kini dikaji luas di berbagai pesantren dan bahkan di Timur Tengah, menjadikan namanya harum di kalangan ulama. Beliau juga mendirikan dan mengasuh Pesantren Jampes dengan ribuan santri.
Sementara itu, KH. Marzuqi dinikahkan dengan putri KH. Abdul Karim (Mbah Manab), pendiri Pondok Pesantren Lirboyo yang masyhur. Beliau menjadi menantu dan tinggal di lingkungan Pesantren Lirboyo, membantu mengembangkan pesantren tersebut hingga menjadi salah satu pusat keilmuan terbesar di Indonesia.
Kisah yang Menggetarkan Hati
Meski sibuk mengajar dan mengasuh santri di Jampes, KH. Ihsan jarang berkunjung ke ibunya di Banjarmlati karena kesibukan yang luar biasa. Sebaliknya, KH. Marzuqi tetap istiqamah setiap hari sowan (mengunjungi dan menyapa) ibunya, meski tinggal di Lirboyo.
Suatu hari, Ny. Arthimah menyampaikan kerinduan mendalam untuk bertemu putra sulungnya, KH. Ihsan. Pesan itu disampaikan oleh KH. Marzuqi kepada kakaknya. Namun, waktu berlalu, KH. Ihsan belum juga datang karena kesibukannya.
Sang ibu mulai menggerutu. KH. Marzuqi berusaha menenangkan:
“Maafkan, Bu. Kakak sibuk mengajar banyak santri, mengurusi pesantren besar. Mungkin belum sempat.”
Dengan tegas dan penuh makna, Ny. Arthimah menjawab:
“Sebesar apa pun kedudukan KH. Ihsan, seberapapun banyak santri dan ilmunya, ia tetaplah anak yang lahir dari rahimku.”
Ucapan itu langsung mengguncang hati KH. Marzuqi. Tanpa menunggu lama, beliau segera berangkat ke Jampes dengan sepeda onthel untuk menemui kakaknya. Setelah menyampaikan pesan ibu secara langsung, KH. Ihsan tersentuh mendalam. Beliau langsung meliburkan pengajiannya, meninggalkan tanggung jawab sejenak, dan bergegas menuju Banjarmlati.
Puncak Ketawadhuan
Sesampainya di perempatan Bandar—sekitar 1,5 km dari rumah ibunya—KH. Ihsan turun dari kendaraan. Beliau melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sampai di ujung gang menuju rumah ibu, langkahnya semakin pelan dan penuh tawadhu’. Beliau duduk bersimpuh di depan pintu, mengucapkan salam dengan suara lirih, memohon maaf atas kelalaiannya, sambil meneteskan air mata.
Sikap itu menunjukkan betapa seorang ulama sebesar Syekh Ihsan Jampes—pengarang kitab yang dikaji hingga ke mancanegara—tetap merendahkan diri di hadapan ibunya. Tidak ada kebanggaan ilmu, kedudukan, atau jumlah santri yang bisa mengalahkan kehormatan seorang ibu.
Hikmah dan Pelajaran Berharga
Kisah ini mengajarkan beberapa hal penting bagi kita semua:
1. Ridha ibu adalah pintu ridha Allah
Tidak peduli seberapa tinggi ilmu atau jabatan seseorang, status anak tetap anak. Ucapan ibu “ia tetaplah anak yang lahir dari rahimku” mengingatkan bahwa ikatan rahim tidak bisa digantikan oleh apapun.
2. Kesibukan bukan alasan untuk melalaikan orang tua
Bahkan seorang kiai besar dengan ribuan santri pun “dipaksa” meliburkan pengajian demi ibu. Ini pelajaran: prioritaskan orang tua di atas kesibukan duniawi.
3. Tawadhu’ sejati terlihat di hadapan orang tua
KH. Ihsan berjalan kaki, bersimpuh, menangis memohon maaf. Sikap ini jauh lebih berharga daripada ceramah atau kitab tebal.
4. Birru ibu lebih utama daripada yang lain
Dalam banyak riwayat, berbakti kepada ibu memiliki porsi lebih besar karena perjuangan ibu sembilan bulan mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Semoga kita semua termasuk orang yang mendapatkan ridha ibu dan ridha Allah. Sebagaimana doa penutup dalam kisah ini:
رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرَكَتِهِمْ وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ وَأَمِتْنَا فِي طَرِيقَتِهِمْ وَمَعَافَاةٍ مِنَ الْفِتَنْ
Artinya:
“Ya Tuhanku, berilah manfaat kepada kami dengan keberkahan mereka. Tunjukilah kami kepada kebaikan dengan kehormatan mereka. Wafatkanlah kami di atas jalan mereka, dan selamatkanlah kami dari fitnah.”
Amalan sederhana hari ini:
– Telepon atau kunjungi ibu (jika masih ada).
– Mintakan doa dan maaf jika pernah menyakiti.
– Bantu kebutuhannya sekecil apapun.
– Perbanyak doa untuk kedua orang tua.
Semoga kisah ini menjadi pengingat dan motivasi bagi kita untuk senantiasa berbakti kepada ibu, karena ridlo ibu adalah segalanya.
Sumber: KH. Ibrohim Hafidz via HIMASAL Lirboyo
Ditulis oleh
H. Latiful Arif, S.IP., S.Pd.
Pengasuh Pondok Pesantren Ali Ustman
Gondanglegi, Malang, Jawa Timur
Alumni Pondok Pesantren Lirboyo – Kediri
H. Latiful Arif, S.IP, S.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren Ali Ustman Urek-Urek Gondanglegi Malang Jawa Timur | Pendidikan : Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo Kediri Jawa Timur
Kumpulan Tulisan