by

Memahami Kesempurnaan Nikmat: Menelaah Nikmat Allah yang Diberikan kepada Manusia

Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari mengingatkan akan kenikmatan yang sempurna

من تمام النعمة عليك أن يرزقك ما يكفيك، ويمنعك ما يطغيك

Diantara bentuk kesempurnaan nikmat atasmu adalah ketika Dia memberi sesuatu yang mencukupimu dan menahan sesuatu yang akan mencelakakanmu.

Itulah kesempurnaan nikmat. Dia memberimu kecukupan dan menahanmu dari berlebihan, terutama dalam masalah harta.

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ (6) اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ (7

*Temukan keistimewaan dalam membaca Sholawat Nariyah 4444x bersama-sama dengan mengklik tautan ini.

Allah SWT berfirman, “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serba cukup“. (QS. a;-‘Alaq [96]: 6-7)

Pemberian yang tidak mencukupi kebutuhan, lahir dari sikap tak pernah puas dan lupa bersyukur, membuat seseorang sibuk dan lalai dari ketaatan kepada Allah. Pemberian seperti ini, meskipun bagai emas sebesar gunung Uhud, bukanlah menjadi kesempurnaan nikmat.

Baca Juga: Ayat Alquran tentang Bersyukur Arti dan Penjelasannya

ليقلّ ما تفرح به يقلّ ما تحزن عليه

Tatkala berkurang apa yang membuatmu senang, maka berkurang pula apa yang kau sedihkan.

Sebuah kisah yang dapat kita jadikan renungan seorang Laki-Laki Berselimut Tikar Usang.

Ada seorang pemuda yang sangat kaya raya di Damaskus. Dialah Abu Abdi Rabbah. Suatu ketika, ia pergi ke Azerbaijan untuk berdagang. Dalam perjalanannya, ia merasa lelah. Sehingga, ia memutuskan beristirahat di sebuah padang rumput di tepian sungai.

Di tengah-tengah Abu Abdi Rabbah beristirahat, terdengar sayup-sayup suara, “Alhamdulillah.” Sepertinya, suara itu berasal dari ujung padang rumput, Karena terusik dan penasaran, Abu Abdi Rabbah pun memutuskan untuk mencari tahu siapa orang sedari tadi mengucapkan alhamdulillah.

Ternyata, suara itu berasal dari seorang laki-laki yang tengah telentang di padang rumput dengan berselimutkan tikar yang sudah rusak di sana sini. Maka, bertanyalah segera Abu Andi Rabbah padanya.

“Siapakah kau?”

Laki-laki terkejut, la pun beranjak duduk. “Aku? Aku adalah seorang muslim.”

“Kau kenapa?”

“Ah, aku sedang mensyukuri nikmat yang diberikan Allah padaku.”

Abu Abdi Rabbah terheran-heran, “Bagaimana kau bersyukur? Bukankah kau hanya bisa telentang di atas sebuah tikar yang kusam dan jelek?”

Laki-laki itu tersenyum, “Ah, tikar ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nikmat yang diberikan padaku. Lihatlah, aku masih sangat sehat. Aku juga bisa lahir sebagai muslim. Aku masih bisa makan dan hidup hingga hari ini. Dan aku, aku selalu mendapat perlindungan dari fitnah. Bukankah ini kenikmatan yang luar biasa?”

Abu Abdi Rabbah seketika terkagum-kagum. “Semoga Allah merahmatimu, Saudaraku. Maukah kau ikut bersamaku. Kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Namun, laki-laki itu menggeleng, “Aku tidak memerlukan bantuanmu.””Kenapa?”

“Karena aku sudah bahagia dengan pemberian Allah atas hidupku.”

Mendengar jawaban laki-laki itu, Abu Abdi Rabbah kecewa. Selama hidupnya, ia tidak sekali pun pernah ditolak seperti ini. Maka, ia pulang dengan hati sedih. Penolakan laki-laki itu benar- benar merisaukan hatinya. la terus berpikir. Sehingga, berdoalah Abi Abdi Rabbah dalam hatinya, “Ya Allah, lindungilah aku dari kejelekan yang muncul dari diriku.”Setelah itu, ia pun tertidur.

Keesokan harinya, Abu Abdi Rabbah dan pengikutnya bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Damaskus. Saat menunggang keledainya, Abu Abdi Rabbah teringat kembali pada laki-laki yang ia temui semalam.

la pun bergumam, “Ternyata, aku belum bertaubat dengan sebenar-benarnya karena aku masih sangat sibuk mengurusi barang daganganku”

Maka, setibanya di Damaskus, Abu Abdi Rabbah bershadaqah sebanyak-banyaknya dijalan Allah. la merasa, begitulah caranya ia bersyukur. la memang tidak lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang ia jumpai semalam. Namun, setidaknya ia ingin menjadi hamba Allah SWT yang senantiasa mensyukuri semua yang sudah diberikan oleh Allah SWT padanya.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Rezeki yang Tidak Disangka-Sangka

Dari kisah ini Allah menyadarkan si kaya yang selalu kurang, dengan orang sederhana tetapi menyadari limpahan nikmat yang ada pada dirinya

+ posts

Redaksi di Kanzanesia

*Temukan keistimewaan dalam membaca Sholawat Nariyah 4444x bersama-sama dengan mengklik tautan ini.