by

Wajib Baca Nih! 2 Versi Filosofi Ilmu Padi dalam Islam

Nah, teman-teman kali ini saya akan membahas tentang filosofi ilmu padi dalam islam. Karena padi juga bermakna pelajaran lho bagi yang mau berangan-angan. Terkadang kita tidak menyadari bahwa banyak hal-hal disekitar kita yang kita anggap sepele bisa menjadi inspirasi bahkan menjadi aspirasi untuk kita berbuat hal-hal yang mendatangkan manfaat, baik untuk diri  kita sendiri maupun orang lain.

Filosofi Ilmu Padi dan Sifat Tawadhu

Seperti kita tahu bahwa padi adalah bahan asal dari makanan pokok masyarakat Indonesia dan sekitarnya. Padi memang telah menjadi sesuatu yang urgent bagi kita semua, dan sudah umum diketahui khalayak jika filosofi padi itu mengartikan agar tawadhu atau rendah hati. Tapi tunggu dulu nih, menurut saya itu hanya sebagian arti dari filosofi padi tersebut.

Arti dan Penjelasan tentang Ilmu Padi

Bermula dari padi yang mulai ditanam, saat padi hanya berupa dedaunan, lambat laun padi berkembang hingga bercabang. Bercabangnya padi ini bisa disebut padi beranak atau berbuah. Lain dengan manusia dan hewan yang melahirkan. Ketika manusia dan hewan yang melahirkan itu menambah keturunan, mereka hamil duluan, baru melahirkan. Lha dalam masyarakat umum, jika ada gadis hamil duluan mesti jadi wow gitu?? Padahal hal itu benar adanya. Manusia hamil dulu baru melahirkan. Kalau padi melahirkan dulu baru hamil. Diatas kan sudah kita jelaskan kalau padi yang sudah ditanam lama kelamaan akan berbuah atau bercabang dan kemudian buah tersebut berisi yang akhirnya menjadi bahan makanan pokok kita semua, yang dengan melalui banyak proses beralih sebutan menjadi beras.

Lanjut filosofi padi dalam masalah arti, padi ketika belum berisi ia berdiri membentang keatas, ini di ibaratkan ketika seseorang tidak memiliki pengetahuan pada umumnya ia akan membusungkan dada atau bisa disebut sombong. Begitu pula ketika sudah berisi sedikit, ia masih membentang keatas, dalam arti orang yang memiliki ilmu yang sedikit juga sama layaknya orang yang belum berisi. Malah lebih berbahaya mereka yang memiliki ilmu yang sedikit dari pada mereka yang tidak berilmu. Mengapa bisa begitu? Iya, jika mereka merasa cukup puas dengan apa yang dimiliki dan menjadikan ilmu yang dimilikinya untuk mendapatkan isi dari dunia ini.

*Temukan keistimewaan dalam membaca Sholawat Nariyah 4444x bersama-sama dengan mengklik tautan ini.

Namun, masih banyak mereka yang memiliki ilmu yang sedikit dan tetap rendah hati serta terus belajar untuk memperbaiki diri. Kemudian, ketika sudah berisi lebih banyak, padi tersebut akan lebih menunduk. Begitu pula orang yang memiliki ilmu yang luas ia akan lebih rendah hati dalam bersikap, berkata maupun bertindak. Karena mereka yang berwawasan luas mesti lebih tahu tentang semuanya, dan yang paling penting bagaimana wawasan keilmuan mereka bisa menjadikan penolong ketika dibutuhkan, dan menjadikan keselamatan serta kedamaian hidup.

Dalil Tentang Filosofi Ilmu Padi

Berikut ini ada 2 dalil atau versi ilmu padi yang saya bisa dijadikan dalil tentang tawadhu :

1. Ilmu Padi Versi Arab

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda dalam sebuah hadist tentang tawadhu. Hal ini yang senada dengan filosofi ilmu padi dalam islam ini yang merupakan dalil versi Arabnya . Hadist ini diambil dari kitab Jam’ush Shoghir dengan sanad yang shohih :

 ﻣَﺎ ﻧَﻘَﺼَﺖْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ ﻭَﻣَﺎ ﺯَاﺩَ اﻟﻠﻪ ﻋَﺒْﺪاً ﺑِﻌَﻔْﻮٍ ﺇِﻻَّ ﻋِﺰّاً ﻭَمَا تواضع ﺃَﺣَﺪٌ ﻟﻠﻪ ﺇِﻻَّ ﺭَﻓَﻌَﻪُ اﻟﻠﻪ
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ. (ﺻﺤﻴﺢ)

Artinya : “Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, Allah tidak akan menambah kepada orang yang pemaaf kecuali kemuliaan dan tidak ada orang yang mau rendah hati kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”

2. Ilmu Padi Versi Jawa

Ada juga kaidah Jawa versi Arab tentang ilmu padi dalam islam berupa ” Kun Pariyan wa la takun Pakisan”, yang artinya “Jadilah seperti pari(padi) dan janganlah menjadi seperti pakis.” Nah, teman-teman seperti yang telah kita bahas di atas, makna kata padi tak lain adalah agar kita selalu rendah hati, karena orang yang rendah hati itu selalu terkesan menunduk makanya di ibaratkan seperti padi yang telah berisi. Dan jangan menjadi seperti tanaman pakis, karena pertumbuhan tanaman pakis ini sangat berlawanan dengan padi, tanaman pakis selalu tegak, mendongak keatas.

Dan ini menggambarkan orang yang membusungkan dada alias orang yang sombong. Dan sombong itu bukan hanya sekedar mereka yang memiliki segalanya, namun orang sombong itu adalah orang yang tidak bisa menerima kebaikan dan kebenaran, itu juga disebut orang yang sombong. Karena banyak orang menyadari kita tidak memiliki segalanya, namun banyak orang tidak menyadari kesalahannya serta tidak dapat menerima kebenaran dari orang lain. Padahal dalam sebuah kaidah disebutkan :

 أُنْظُرْ اِلَى مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ اِلَى مَنْ قَالَ

Yang artinya : “Lihatlah apa yang dikatakan dan janganlah melihat siapa yang berkata!”.

Dengan dalil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa perkataan apapun yang bermanfaat baik dari orang yang lebih rendah maupun lebih kecil harusnya kita terima tanpa peduli siapa yang berkata?

Filosofi ilmu padi dalam islam ini adalah filosofi yang bisa kita renungkan untuk diambil manfaatnya, terkadang memang  filosofi- filosofi seperti ini amat sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Semoga pembahasan tentang filosofi ilmu padi dalam islam ini bisa bermanfaat serta bisa diambil sisi positifnya.

+ posts

Founder Majelis Ta'lim dan Sholawat Kanzul Jannah International

Pendidikan : Pondok Pesantren Al Ishlah Lasem Rembang Jawa Tengah dan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo Kediri

*Temukan keistimewaan dalam membaca Sholawat Nariyah 4444x bersama-sama dengan mengklik tautan ini.